Sabtu, 25 Juli 2009

15 Danau Mengalami Sedimentasi Parah



JAKARTA, KOMPAS.com - Dua danau di Pulau Sulawesi direkomendasikan
dikeruk akibat sedimentasi berat. Keduanya adalah Danau Limboto di
Provinsi Gorontalo dan Danau Tempe di Provinsi Sulawesi Selatan.

Keduanya masuk Program Pengelolaan Danau Prioritas Tahun 2010-2014 yang
total berjumlah 15 danau. Sebanyak 15 danau lainnya masuk prioritas
program rehabilitasi tahun 2015-2019.

Selain dua danau dikeruk, juga dilakukan peningkatan kualitas air,
peningkatan komitmen pemerintah, pemulihan kawasan terpadu, pengawasan
pemanfaatan multifungsi danau, peningkatan pariwisata, dan program
perubahan iklim.

"Kami butuh kerja sama departemen lain dan pemerintah daerah untuk
memenuhi target itu," kata Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup
Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian
Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman kepada wartawan di Jakarta,
Selasa (21/7).

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) memprakarsai Konferensi
Nasional Danau Indonesia: Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan
Iklim di Bali, 13-15 Agustus 2009. Diperkirakan ada 700 peserta dari
sembilan departemen dan kementerian serta pemerintah daerah.

Data KNLH menunjukkan, dari 22 sungai yang mengalir ke Danau Limboto,
hanya dua sungai masih mengalir ketika musim kemarau. Kondisi hampir
sama terjadi di Danau Tempe.

Selama 1972-2002 laju penyusutan luas Danau Limboto 50 hektar per tahun
dan laju sedimentasi 1,5-50 sentimeter (cm) per tahun. Tanpa
rehabilitasi kerusakan lahan dan pengendalian limbah domestik, tahun
2034 danau itu akan menjadi legenda.

Sementara itu, laju sedimentasi di Danau Tempe mencapai 1-3 cm per
tahun. Tanpa intervensi rehabilitasi, Danau Tempe diperkirakan hilang
setiap musim kering pada tahun 2018.

"Banyak lahan kritis, hutannya juga sedikit," kata Asisten Deputi III
Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Antung D Radiansyah.

Menambah ironis

Masifnya kerusakan danau-danau di Indonesia menambah deret ironi
kekayaan alam Tanah Air setelah pembabatan hutan dan eksploitasi sumber
daya alam besar-besaran.

Dari data KNLH, ada 840 danau besar dan 735 danau kecil di Indonesia.
Danau-danau itu menyediakan 72 persen suplai air permukaan di Indonesia.

Danau-danau juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, wisata,
irigasi, dan budidaya perikanan. Namun, daya dukungnya terus menyusut
drastis akibat pola pembangunan dan pengelolaan yang mengabaikan fungsi
penting dan daya tampungnya.

Salah satu contoh pengabaian perhitungan daya tampung danau adalah
kematian massal ikan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada akhir tahun
2008 lalu hingga mencapai 13.413 ton atau setara dengan Rp 150 miliar.

Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain dalam skala berbeda-beda.
Namun, terus berulang dan merugikan para pembudidaya ikan.

"Waktunya mengubah pola pikir tentang pengelolaan dan peran danau dalam
pembangunan, " kata Masnellyarti.

Sebagai langkah perubahan, setidaknya membutuhkan komitmen sembilan
departemen dan kementerian untuk kesepakatan pengelolaan danau
berkelanjutan. Sejumlah target sudah dibuat dan rencana pengelolaan
berkelanjutan disusun untuk dibahas pada pertemuan di Bali pada Agustus
2009 mendatang.

Untuk mendanai program tersebut butuh dana besar. Untuk itu, KNLH akan
mengajak semua departemen dan kementerian yang terlibat pengelolaan
untuk turun tangan. (GSA)

http://sains. kompas.com/

“Sunscreen” Atmosfer Buatan, Tidak Efeketif Menyelamatkan Terumbu Karang

(Science Daily). Rencana darurat untuk menghindari pemanasan global dengan membuat pelindung buatan untuk bumi dari cahaya matahari kemungkinan dapat menurunkan suhu bumi beberapa derajat, tetapi solusi “geoengeneerig” seperti ini hanya akan memberikan sedikit pengaruh positif untuk menghambat pengasaman (bertambahnya keasaman) laut yang mengancam terumbu karang dan biota laut lainnya, demikian kajian terbaru di jurnal Geophysical Research Letters. Sumber pengasaman ini adalah karbon dioksida, yang bahkan dalam suhu dingin akan tetap diserap oleh air laut dan menyebabkan kondisi asam.

“Akan ada penurunan kecil dalam masalah ini, karena tanaman diharapkan akan dapat tumbuh lebih baik dalam kondisi CO2 yang tinggi, tetapi dunia akan menjadi dingin” kata Ken Caldeira dari Departemen Ekologi Dunia Institut Carneige, co-penulis dalam bidang yang diketuai Damon Matthews dari Universitas Concordia Kanada dan Geokimia dari Carneige, Long Cao. Dalam skenariao ini , tanaman darat dan tanah akan menahan karbon sehingga hanya sedikit yang menuju laut. “ Bagaimanapun juga, perluasan biosfer darat tidak mampu membuat perubahan besar meskipun sedikit membantu penurunan aktifitas pengasaman laut.”

Telah menjadi perdebatan yang luas mengenai usulan ”geoengeneering” yang menginjeksikan sesuatu partikel kecil yang dapat memantulkan partikel pada bagian atas atmosfer. Partikel ini akan membelokan cahaya matahari sebelum menyentuh bumi, sehingga menurunkan temperatur global sebagaimana yang terjadi pada debu vulkanik dari Gunung Pinatuho yang diikuti ledakan yang memblok cahaya matahari pada tahun 1991. Tetapi kritik dan peringatan terus mengalir memperingatkan adanya perkiraan perubahan pola hujan, perusakan lapisan ozon, atau efek tak terduga lainnya.

Hingga hasil studi studi terbaru dengan menggunakan permodelan program komputer dari sistem iklim dan biosfer bumi untuk menstimulasi efek ”geoengeneering” pada iklim dan kimia laut, potensi akibat yang dapat muncul seperti kemungkinan pengaruh pengasaman laut tidak pernah dikalkulasi. Dalam simulasi ini, pengurangan cahaya akan mendinginkan planet seperti yang diharapkan dan juga mengurangi naiknya karbon dioksida ke atmosfer dan semakin banyak karbon yang diserap tanah. Tetapi perubahan tipis tidak cukup untuk mengurangi pengasaman laut.

Pengasaman laut bersama pemanasan global merupakan ancaman utama bagi ekosistem laut, terutama terumbu karang, yang butuh mineral untuk tumbuh. Meningkatnya jumlah karbon dioksida membuat air laut semakin asam, menyebabkan kejenuhan mineral menurun. Penemuan terbaru menunjukkan indikasi emisi karbon dioksida yang terus-menerus meningkat akan menyebabkan terumbu karang akan hilang dalam beberapa dekade, menempatkan keberadaan ekosistem ini dalam ancaman kepunahan yang tinggi.

Minimnya efek geoengeneering pada pengasaman laut menambah faktor lain yang memperdebatkan kelayakannya terkait kemungkinan kerusakan sistem iklim. Beberapa peneliti melihat geoengeneering sebagai kemungkinan tepat sebagai respon terhadap efek negatif perubahan iklim yang diakibatkan meningkatnya emisi dari efek rumah kaca. Beberapa orang melihatnya sebagai hal sembrono dikaitkan dengan kekompleksan planet dan akhirnya merubah sistem iklim ke arah yang lebih buruk.

“Geoengeneering datang membawa bermacam-macam risiko,” kata Caldiera.” Penting bagi kita untuk mempelajari secara utuh dan menyeluruh semua risiko dan implikasinya.” Ia menyebutkan bahwa pengurangan besar-besaran pada emisi oleh aktifitas manusia berupa karbon dioksida sebagai cara paling efektif dan aman melawan krisis lingkungan global.” Salah satu alasan terbaik memilih reduksi pembuangan CO2 dibandingkan geoengeneering adalah reduksi pembuangan CO2 akan melindungi laut dari ancaman pengasaman alut, sedangkan opsi geoengeenering tidak.”

Diterjemahkan dari Science Daily June 26, 2009


Pembatasan Alat Tangkap, Solusi Meningkatkan Resilience Terumbu Karang Terhadap Perubahan Iklim

(Science Daily).Larangan atau pembatasan penggunaan alat tangkap tipe tertentu dapat menyelamatkan terumbu karang dan populasi ikan untuk dapat bertahan dari serangan gencar perubahan iklim, demikian studi dari ARC Centre of Excellent Coral Reef Study di Universitas James Cook, Wildlife Conservation Society dan kelompok lainnya.
Tim ilmuwan internasional telah mengusulkan larangan penggunanaan alat tangkap seperti senapan tombak, jebakan ikan, dan jaring pukat pantai, untuk dapat membantu dalam perbaikan pada karang dan populasi ikan yang menurun drastis akibat pemutihan karang.
Di sekeliling dunia, terumbu karang mati dalam kondisi menghawatirkan, akibat adanya peningkatan suhu air laut hasil dari pemanasan global.
Penelitian di Kenya dan Papua New Guinea menunjukkan beberapa tipe alat tangkap memikili potensi lebih untuk merusak karang, ikan karang, dan spesies kunci yang dibutuhkan karang untuk pulih dari setelah kejadian pemutihan atau akibat badai.
“Ini menciptakan bahaya ganda, baik karang maupun tipe ikan karang tertentu. Mereka di ambang kehancuran karena penangkapan berlebih dan ditambah pengaruh yang diakibatkan pemutihan semakin memojokan mereka” jelas Dr Cinner. Hasil pembatasan penggunaan alat tangkap dapat menurunkan kerusakan terumbu, populasi ikan, dan meningkatkan kemampuan untuk menopang kesejahteraan penduduk lokal dalam jangka panjang.
“Dari segi ekologi, respon terbaik untuk pemutihan adalah pendekatan pengelolaan terhadap keberadaan karang dan ikan sepenuhnya. Tetapi hal ini cenderung sulit atau tidak dapat diaplikasikan dengan mudah, terutama pada nelayan miskin di negara berkembang”, kata Dr. Tim McClanahan, co-penulis Wildlife Conservation Society. “Pada area dimana pembatasan penangkapan sulit dilakukan , pengelola terumbu karang tidak memiliki banyak pilihan dan tidak dapat melakukan hal lain selain melihat karang mati dan umumnya tidak pulih kembali.”
“Seleksi pembatasan alat tangkap menawarkan pengelola dan nelayan sebuah daerah tengah, ini dapat berupa mengurangi tekanan pada karang dan ikan yang sementara berada dalam fase pemulihan, sementara itu pula harus disediakan beberapa pilihan untuk keberlangsungan hidup nelayan” kata Dr Cinner. Jalan tengah seperti ini umumnya dipilih oleh nelayan. “Di lain pihak, penelitian menunjukan nelayan lebih memilih larangan total dibandingkan dengan larangan penggunaan alat tertentu, karena kebanyakan nelayan menggunakan beberapa tipe alat jadi mereka masih dapat meghasilkan pendapatan jika salah satu alat yang digunakan dilarang. Mereka lebih cenderung menurut.”
Tim menyelidiki efek dari lima tipe alat yang digunakan pada tipe ikan berbeda: tombak, jebakan, kait dan benang, jaring pukat pantai, dan jaring insang. Mereka mendapati tombak merupakan alat yang berakibat fatal diantara semuanya- untuk karang sendiri, spesies ikan yang mudah terkena adalah ikan yang dibutuhkan karang untuk pulih seperti ikan parrot/kakatua, surgeon, trigger yang bersama bulu babi menekan populasi alga, agar karang dapat tumbuh kembali.
“ Target senapan tombak umumnya adalah spesies yang membantu pemulihan terumbu karang, tetapi akibat yang mengejutkan adalah kerusakan terumbu itu sendiri. Ketika ikan ditombak, umumnya ikan akan bersembunyi di balik terumbu sehingga beberapa nelayan akan menghancurkan terumbu untuk mendapatkannya.”kata Dr Cinner.
Tetapi pada negara berkembang, tombak merupakan senjata memancing yang banyak digunakan oleh nelayan miskin karena pembuatannya murah dan hasilnya tinggi, jadi tombak merupakan sumber penghasilan utama nelayan miskin.
“Anda dapat menentukan kebijakan larangan penggunaan alat sewenang-wenang, tetapi anda perlu untuk mempertimbangkan persoalan seperti keringanan, pilihan lain penangkapan, atau alternatif pencaharian yang berpengaruh terhadap nelayan.” kata Dr Shaun Wilson, co-penulis Departemen Konservasi Lingkungan Australia Barat. “Kunci utama dapat berupa edukasi terhadap nelayan mengenai pentingnya habitat terumbu dan spesies yang berpengaruh terhadap kualitas terumbu dan kebutuhan untuk menseleksi apa yang mereka tangkap. Ini berarti nelayan masih dapat menggunakan alat tangkap yang murah dan efektif tanpa perlu merusak habitat dan menurunkan daya pulih terumbu.”
Jebakan ikan dapat mengenai ikan karang yang rentan dan ikan yang berpeeran dalam pemulihan kondisi karang. Jaring pukat pantai mengenai ikan spesies kunci tidak sebanyak jaring insang, jebakan, atau tombak, tetapi sama merusak karang secara langsung dan mengambil jumlah ikan muda dalam jumlah besar.
“Di lokasi yang tingkat ketergantungan pada sumber daya terumbu karangnya tinggi, tidak mungkin melarang semua alat tangkap ini secara permanen. Dengan menciptaan pembtasan sementara untuk alat tipe tertentu, selama fase pemutihan karang, pengelola terumbu dapat menurunkan tekanan pada karang dan populasi ikan untuk sementara waktu ketika ekosistem terumbu dalam kondisi sensitif, tanpa mengakibatkan kesulitan yang tak semestinya terhadap masyarakat yang bergantung padanya.” kata Dr Cinner
“Tentu saja, ketika kondisi membaik, pengelola dan nelayan tidak perlu untuk menunggu fenomena pemutihan karang te rjadi lalu dilakukan pengaturan alat tangkap. Pengaturan penggunaan alat merupakan ide bagus, terutama di area yang rentan terhadap kejadian pemutihan,” kata Dr Nick Graham, co-penulis. “Penelitian baru menyediakan beberapa ide untuk pengelola mengenai keuntungan larangan alat tangkap tertentu.”
Dr Cinner mengatakan bahwa larangan sementara atau mengadakan pelarangan permanen pada penggunaan berbagai macam alat yang dapat digunakan pada manajemen karang yang secara umum - baik di neara berkembang atau negara maju seperti Great Barrier Reef di Australia.
“Prinsipnya dapat digunakan dimanapun. Hal ini menawarkan baik kepada komunitas maupun pengelola terumbu dengan fleksibilitas yang tinggi. Di sekeliling dunia, semakin banyak komunitas yang peduli dan menciptakan berbagai pilihan sendiri, bagaimana cara melindungi terumbu karang mereka dan mereka dapat mengadakan larangan sukarela pada beberapa alat tangkap.
Diterjemahkan dari Science Daily 21 Juni 2009


Toggle

Shades of Teal Palette

Shades of Teal Palette