Sabtu, 25 Juli 2009

15 Danau Mengalami Sedimentasi Parah



JAKARTA, KOMPAS.com - Dua danau di Pulau Sulawesi direkomendasikan
dikeruk akibat sedimentasi berat. Keduanya adalah Danau Limboto di
Provinsi Gorontalo dan Danau Tempe di Provinsi Sulawesi Selatan.

Keduanya masuk Program Pengelolaan Danau Prioritas Tahun 2010-2014 yang
total berjumlah 15 danau. Sebanyak 15 danau lainnya masuk prioritas
program rehabilitasi tahun 2015-2019.

Selain dua danau dikeruk, juga dilakukan peningkatan kualitas air,
peningkatan komitmen pemerintah, pemulihan kawasan terpadu, pengawasan
pemanfaatan multifungsi danau, peningkatan pariwisata, dan program
perubahan iklim.

"Kami butuh kerja sama departemen lain dan pemerintah daerah untuk
memenuhi target itu," kata Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup
Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian
Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman kepada wartawan di Jakarta,
Selasa (21/7).

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) memprakarsai Konferensi
Nasional Danau Indonesia: Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan
Iklim di Bali, 13-15 Agustus 2009. Diperkirakan ada 700 peserta dari
sembilan departemen dan kementerian serta pemerintah daerah.

Data KNLH menunjukkan, dari 22 sungai yang mengalir ke Danau Limboto,
hanya dua sungai masih mengalir ketika musim kemarau. Kondisi hampir
sama terjadi di Danau Tempe.

Selama 1972-2002 laju penyusutan luas Danau Limboto 50 hektar per tahun
dan laju sedimentasi 1,5-50 sentimeter (cm) per tahun. Tanpa
rehabilitasi kerusakan lahan dan pengendalian limbah domestik, tahun
2034 danau itu akan menjadi legenda.

Sementara itu, laju sedimentasi di Danau Tempe mencapai 1-3 cm per
tahun. Tanpa intervensi rehabilitasi, Danau Tempe diperkirakan hilang
setiap musim kering pada tahun 2018.

"Banyak lahan kritis, hutannya juga sedikit," kata Asisten Deputi III
Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Antung D Radiansyah.

Menambah ironis

Masifnya kerusakan danau-danau di Indonesia menambah deret ironi
kekayaan alam Tanah Air setelah pembabatan hutan dan eksploitasi sumber
daya alam besar-besaran.

Dari data KNLH, ada 840 danau besar dan 735 danau kecil di Indonesia.
Danau-danau itu menyediakan 72 persen suplai air permukaan di Indonesia.

Danau-danau juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, wisata,
irigasi, dan budidaya perikanan. Namun, daya dukungnya terus menyusut
drastis akibat pola pembangunan dan pengelolaan yang mengabaikan fungsi
penting dan daya tampungnya.

Salah satu contoh pengabaian perhitungan daya tampung danau adalah
kematian massal ikan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada akhir tahun
2008 lalu hingga mencapai 13.413 ton atau setara dengan Rp 150 miliar.

Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain dalam skala berbeda-beda.
Namun, terus berulang dan merugikan para pembudidaya ikan.

"Waktunya mengubah pola pikir tentang pengelolaan dan peran danau dalam
pembangunan, " kata Masnellyarti.

Sebagai langkah perubahan, setidaknya membutuhkan komitmen sembilan
departemen dan kementerian untuk kesepakatan pengelolaan danau
berkelanjutan. Sejumlah target sudah dibuat dan rencana pengelolaan
berkelanjutan disusun untuk dibahas pada pertemuan di Bali pada Agustus
2009 mendatang.

Untuk mendanai program tersebut butuh dana besar. Untuk itu, KNLH akan
mengajak semua departemen dan kementerian yang terlibat pengelolaan
untuk turun tangan. (GSA)

http://sains. kompas.com/

“Sunscreen” Atmosfer Buatan, Tidak Efeketif Menyelamatkan Terumbu Karang

(Science Daily). Rencana darurat untuk menghindari pemanasan global dengan membuat pelindung buatan untuk bumi dari cahaya matahari kemungkinan dapat menurunkan suhu bumi beberapa derajat, tetapi solusi “geoengeneerig” seperti ini hanya akan memberikan sedikit pengaruh positif untuk menghambat pengasaman (bertambahnya keasaman) laut yang mengancam terumbu karang dan biota laut lainnya, demikian kajian terbaru di jurnal Geophysical Research Letters. Sumber pengasaman ini adalah karbon dioksida, yang bahkan dalam suhu dingin akan tetap diserap oleh air laut dan menyebabkan kondisi asam.

“Akan ada penurunan kecil dalam masalah ini, karena tanaman diharapkan akan dapat tumbuh lebih baik dalam kondisi CO2 yang tinggi, tetapi dunia akan menjadi dingin” kata Ken Caldeira dari Departemen Ekologi Dunia Institut Carneige, co-penulis dalam bidang yang diketuai Damon Matthews dari Universitas Concordia Kanada dan Geokimia dari Carneige, Long Cao. Dalam skenariao ini , tanaman darat dan tanah akan menahan karbon sehingga hanya sedikit yang menuju laut. “ Bagaimanapun juga, perluasan biosfer darat tidak mampu membuat perubahan besar meskipun sedikit membantu penurunan aktifitas pengasaman laut.”

Telah menjadi perdebatan yang luas mengenai usulan ”geoengeneering” yang menginjeksikan sesuatu partikel kecil yang dapat memantulkan partikel pada bagian atas atmosfer. Partikel ini akan membelokan cahaya matahari sebelum menyentuh bumi, sehingga menurunkan temperatur global sebagaimana yang terjadi pada debu vulkanik dari Gunung Pinatuho yang diikuti ledakan yang memblok cahaya matahari pada tahun 1991. Tetapi kritik dan peringatan terus mengalir memperingatkan adanya perkiraan perubahan pola hujan, perusakan lapisan ozon, atau efek tak terduga lainnya.

Hingga hasil studi studi terbaru dengan menggunakan permodelan program komputer dari sistem iklim dan biosfer bumi untuk menstimulasi efek ”geoengeneering” pada iklim dan kimia laut, potensi akibat yang dapat muncul seperti kemungkinan pengaruh pengasaman laut tidak pernah dikalkulasi. Dalam simulasi ini, pengurangan cahaya akan mendinginkan planet seperti yang diharapkan dan juga mengurangi naiknya karbon dioksida ke atmosfer dan semakin banyak karbon yang diserap tanah. Tetapi perubahan tipis tidak cukup untuk mengurangi pengasaman laut.

Pengasaman laut bersama pemanasan global merupakan ancaman utama bagi ekosistem laut, terutama terumbu karang, yang butuh mineral untuk tumbuh. Meningkatnya jumlah karbon dioksida membuat air laut semakin asam, menyebabkan kejenuhan mineral menurun. Penemuan terbaru menunjukkan indikasi emisi karbon dioksida yang terus-menerus meningkat akan menyebabkan terumbu karang akan hilang dalam beberapa dekade, menempatkan keberadaan ekosistem ini dalam ancaman kepunahan yang tinggi.

Minimnya efek geoengeneering pada pengasaman laut menambah faktor lain yang memperdebatkan kelayakannya terkait kemungkinan kerusakan sistem iklim. Beberapa peneliti melihat geoengeneering sebagai kemungkinan tepat sebagai respon terhadap efek negatif perubahan iklim yang diakibatkan meningkatnya emisi dari efek rumah kaca. Beberapa orang melihatnya sebagai hal sembrono dikaitkan dengan kekompleksan planet dan akhirnya merubah sistem iklim ke arah yang lebih buruk.

“Geoengeneering datang membawa bermacam-macam risiko,” kata Caldiera.” Penting bagi kita untuk mempelajari secara utuh dan menyeluruh semua risiko dan implikasinya.” Ia menyebutkan bahwa pengurangan besar-besaran pada emisi oleh aktifitas manusia berupa karbon dioksida sebagai cara paling efektif dan aman melawan krisis lingkungan global.” Salah satu alasan terbaik memilih reduksi pembuangan CO2 dibandingkan geoengeneering adalah reduksi pembuangan CO2 akan melindungi laut dari ancaman pengasaman alut, sedangkan opsi geoengeenering tidak.”

Diterjemahkan dari Science Daily June 26, 2009


Pembatasan Alat Tangkap, Solusi Meningkatkan Resilience Terumbu Karang Terhadap Perubahan Iklim

(Science Daily).Larangan atau pembatasan penggunaan alat tangkap tipe tertentu dapat menyelamatkan terumbu karang dan populasi ikan untuk dapat bertahan dari serangan gencar perubahan iklim, demikian studi dari ARC Centre of Excellent Coral Reef Study di Universitas James Cook, Wildlife Conservation Society dan kelompok lainnya.
Tim ilmuwan internasional telah mengusulkan larangan penggunanaan alat tangkap seperti senapan tombak, jebakan ikan, dan jaring pukat pantai, untuk dapat membantu dalam perbaikan pada karang dan populasi ikan yang menurun drastis akibat pemutihan karang.
Di sekeliling dunia, terumbu karang mati dalam kondisi menghawatirkan, akibat adanya peningkatan suhu air laut hasil dari pemanasan global.
Penelitian di Kenya dan Papua New Guinea menunjukkan beberapa tipe alat tangkap memikili potensi lebih untuk merusak karang, ikan karang, dan spesies kunci yang dibutuhkan karang untuk pulih dari setelah kejadian pemutihan atau akibat badai.
“Ini menciptakan bahaya ganda, baik karang maupun tipe ikan karang tertentu. Mereka di ambang kehancuran karena penangkapan berlebih dan ditambah pengaruh yang diakibatkan pemutihan semakin memojokan mereka” jelas Dr Cinner. Hasil pembatasan penggunaan alat tangkap dapat menurunkan kerusakan terumbu, populasi ikan, dan meningkatkan kemampuan untuk menopang kesejahteraan penduduk lokal dalam jangka panjang.
“Dari segi ekologi, respon terbaik untuk pemutihan adalah pendekatan pengelolaan terhadap keberadaan karang dan ikan sepenuhnya. Tetapi hal ini cenderung sulit atau tidak dapat diaplikasikan dengan mudah, terutama pada nelayan miskin di negara berkembang”, kata Dr. Tim McClanahan, co-penulis Wildlife Conservation Society. “Pada area dimana pembatasan penangkapan sulit dilakukan , pengelola terumbu karang tidak memiliki banyak pilihan dan tidak dapat melakukan hal lain selain melihat karang mati dan umumnya tidak pulih kembali.”
“Seleksi pembatasan alat tangkap menawarkan pengelola dan nelayan sebuah daerah tengah, ini dapat berupa mengurangi tekanan pada karang dan ikan yang sementara berada dalam fase pemulihan, sementara itu pula harus disediakan beberapa pilihan untuk keberlangsungan hidup nelayan” kata Dr Cinner. Jalan tengah seperti ini umumnya dipilih oleh nelayan. “Di lain pihak, penelitian menunjukan nelayan lebih memilih larangan total dibandingkan dengan larangan penggunaan alat tertentu, karena kebanyakan nelayan menggunakan beberapa tipe alat jadi mereka masih dapat meghasilkan pendapatan jika salah satu alat yang digunakan dilarang. Mereka lebih cenderung menurut.”
Tim menyelidiki efek dari lima tipe alat yang digunakan pada tipe ikan berbeda: tombak, jebakan, kait dan benang, jaring pukat pantai, dan jaring insang. Mereka mendapati tombak merupakan alat yang berakibat fatal diantara semuanya- untuk karang sendiri, spesies ikan yang mudah terkena adalah ikan yang dibutuhkan karang untuk pulih seperti ikan parrot/kakatua, surgeon, trigger yang bersama bulu babi menekan populasi alga, agar karang dapat tumbuh kembali.
“ Target senapan tombak umumnya adalah spesies yang membantu pemulihan terumbu karang, tetapi akibat yang mengejutkan adalah kerusakan terumbu itu sendiri. Ketika ikan ditombak, umumnya ikan akan bersembunyi di balik terumbu sehingga beberapa nelayan akan menghancurkan terumbu untuk mendapatkannya.”kata Dr Cinner.
Tetapi pada negara berkembang, tombak merupakan senjata memancing yang banyak digunakan oleh nelayan miskin karena pembuatannya murah dan hasilnya tinggi, jadi tombak merupakan sumber penghasilan utama nelayan miskin.
“Anda dapat menentukan kebijakan larangan penggunaan alat sewenang-wenang, tetapi anda perlu untuk mempertimbangkan persoalan seperti keringanan, pilihan lain penangkapan, atau alternatif pencaharian yang berpengaruh terhadap nelayan.” kata Dr Shaun Wilson, co-penulis Departemen Konservasi Lingkungan Australia Barat. “Kunci utama dapat berupa edukasi terhadap nelayan mengenai pentingnya habitat terumbu dan spesies yang berpengaruh terhadap kualitas terumbu dan kebutuhan untuk menseleksi apa yang mereka tangkap. Ini berarti nelayan masih dapat menggunakan alat tangkap yang murah dan efektif tanpa perlu merusak habitat dan menurunkan daya pulih terumbu.”
Jebakan ikan dapat mengenai ikan karang yang rentan dan ikan yang berpeeran dalam pemulihan kondisi karang. Jaring pukat pantai mengenai ikan spesies kunci tidak sebanyak jaring insang, jebakan, atau tombak, tetapi sama merusak karang secara langsung dan mengambil jumlah ikan muda dalam jumlah besar.
“Di lokasi yang tingkat ketergantungan pada sumber daya terumbu karangnya tinggi, tidak mungkin melarang semua alat tangkap ini secara permanen. Dengan menciptaan pembtasan sementara untuk alat tipe tertentu, selama fase pemutihan karang, pengelola terumbu dapat menurunkan tekanan pada karang dan populasi ikan untuk sementara waktu ketika ekosistem terumbu dalam kondisi sensitif, tanpa mengakibatkan kesulitan yang tak semestinya terhadap masyarakat yang bergantung padanya.” kata Dr Cinner
“Tentu saja, ketika kondisi membaik, pengelola dan nelayan tidak perlu untuk menunggu fenomena pemutihan karang te rjadi lalu dilakukan pengaturan alat tangkap. Pengaturan penggunaan alat merupakan ide bagus, terutama di area yang rentan terhadap kejadian pemutihan,” kata Dr Nick Graham, co-penulis. “Penelitian baru menyediakan beberapa ide untuk pengelola mengenai keuntungan larangan alat tangkap tertentu.”
Dr Cinner mengatakan bahwa larangan sementara atau mengadakan pelarangan permanen pada penggunaan berbagai macam alat yang dapat digunakan pada manajemen karang yang secara umum - baik di neara berkembang atau negara maju seperti Great Barrier Reef di Australia.
“Prinsipnya dapat digunakan dimanapun. Hal ini menawarkan baik kepada komunitas maupun pengelola terumbu dengan fleksibilitas yang tinggi. Di sekeliling dunia, semakin banyak komunitas yang peduli dan menciptakan berbagai pilihan sendiri, bagaimana cara melindungi terumbu karang mereka dan mereka dapat mengadakan larangan sukarela pada beberapa alat tangkap.
Diterjemahkan dari Science Daily 21 Juni 2009


Rabu, 15 Juli 2009

Aksi penyetroman ikan di sungai kutai kartanegara

Dari: Innal Rahman
Judul: Salam Perkenalan
Kepada: mukhtar_api@yahoo.co.id
Tanggal: Minggu, 5 Juli, 2009, 6:27 AM


Salam Kenal dari pemancing sungai kutai kartanegara, kaltim

Sebelumnya saya tau alamat emailnya dari blognya yg sy tau pas buka di facebook.

Perkenalkan, sy dan tmn2 sering mancing di sungai2, rawa2, danau2 yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara, dan polemik yg sedang kami hadapi saat ini adalah :
1. Masih banyaknya warga yang menggunakan alat penangkap ikan yang illegal. Seperti strum dengan daya mulai dari aki sampai yang (lebih parah) Mesin genset. Belum lagi yang menebarkan potas disungai...
2. Tindakan dari Dinas Kelautan setempat setau sy kegiatan mereka hanya sebatas memasang plang pengumuman yang intinya melarang hal2 berikut dengan ancaman akan di tindak sesuai hukum dan UU yg berlaku. Akan tetapi tanpa disertai dengan pengawasan yang kontinyu. Hal ini semakin diperparah dengan luasnya wilayah kutai kartanegara yang sebagian besar dialiri Das Sungai mahakam. Sehingga alasan mereka jika saya tanya mengenai hal diatas, adalah terbatasnya dana untuk melakukan razia ataupun hal2 semacamnya. Padahal dana dari pemkab utk dinas kelautan setempat sy rasa tidak sedikit.
3. Dari aparat keamanan (polisi, TNI) pun tidak ada tindakan yang tegas. Ada beberapa kasus, pelaku ilegal fishing (Strum dan racun) masih bisa melenggang senang setelah ditangkap dan mendekam 1 hari dalam sel. Dan ada juga yang diproses secara hukum, namun tidak ada yang bisa membuat pelaku tsb jera.
4. Belum lagi tingkat persaingan warga dalam mendapatkan ikan, membuat beberapa masalah :
a. warga asli mulai merasakan persaingan semakin ramai karena banyaknya warga pendatang yang bermukim secara permanen dan periodik, kebanyakan dari Banjarmasin.
Biasanya mereka berdiam ketika musim ikan utk menangkap ikan yang selanjutnya di asinkan dan di kumpulkan sampai targetnya terpenuhi. Selepas itu dijual kembali ke banjarmasin.
b. Penggunaan strum kebanyakan dibawa dr warga pendatang ini, sehingga karena ramainya persaingan serta himpitan ekonomi membuat warga asli mulai menghalalkan segala cara. Sehingga semakin banyaklah pelaku illegal fishing dengan metode tsb.
c. Penggunaan jaring/jala yang semakin banyak membuat daerah kekuasaan hewan langka kutai kartanegara (pesut) mulai terancam. Karena daerah teritory banyak yang dikuasai warga. sehingga semakin sedikit daerah utk mencari makan bagi hewan langka tsb. Belum lagi jaring tsb sering menjerat pesut dan ada diantaranya mati karena terjaring jala/jaring warga. Baru2 ini ada berita yang mengabarkan bahwa di Kutai Barat skrg melarang warga menggunakan jaring dengan skala kecil, karena selain menghabiskan ikan2 kecil serta menghambat pertumbuhan ikan utk tumbuh lebih besar lagi, hal tsb juga menghilangkan sumber makanan bagi ikan2 yang lebih besar.

Kami secara independen mencoba melakukan sosialisasi atau ajakan kepada pemancing serta warga setempat utk bersama2 mengatakan STOP RACUN & STRUM...! Melalui buletin mancing yang kami bikin secara independen dan dibagikan 1 kali dalam sebulan di toko2 pancing yang ada di tenggarong, banyaknya hanya sekitar 150 eksemplar.
Kami sadar hal yang kami lakukan tidak banyak membantu, karena hanya mencakup kota kabupaten saja, sedangkan yang perlu sebenarnya adalah daerah2 yang ada di pedalaman yang kerap melakukan hal2 illegal fishing. Namun setidaknya kami melakukan sesuatu, tidak sekedar diam atau sekedar membenci hal2 negatif tsb.

Mohon pencerahannya....
STOP RACUN & STRUM...!!


Sering Dicuri Nelayan Asing, Indonesia Terancam Krisis Ikan

ndonesia terancam krisis ikan nasional pada tahun 2015. Hal ini karena sebanyak 1,5-4 juta ton ikan dicuri setiap tahun oleh nelayan asing. Pemerintah diminta segera mengambil langkah-langkah darurat untuk menyelamatkan perikanan nasional.

“Saatnya Pemerintah Indonesia memperbaiki kebijakan diplomasi agar bisa melindungi kepentingan nasional, khususnya hak perikanan tradisional. Namun yang tak kalah penting adalah mengubah paradigma pembangunan nasional, dari darat menuju ke laut,” tegas Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam siaran persnya ke redaksi SM CyberNews.

Menurut Koordinator Penguatan Jaringan KIARA Abdul Halim ada 10 negara yang melakukan pencurian ikan di wilayah Indonesia yakni Malaysia, Vietnam, China, Taiwan, Myanmar, Filipina, Thailand, Kamboja, Panama, dan Korea Selatan. “Bukan tidak mungkin jika pencurian ini didukung oleh pemerintah negara bersangkutan,” sinyalir Halim.

Karena itu, Halim meminta pemerintah Indonesia belajar pada visi kelautan PM Djuanda bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagiaan pulau-pulau yang termasuk daratan NKRI dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar dari wilayah daratan NKRI.

“Menyadari minimnya sistem pertahanan nasional dan alutsita yang dimiliki, maka langkah yang diambil pemerintah dalam WOC jelas mengundang persoalan baru, yang tak hanya mengancam kedaulatan bangsa, melainkan juga mengorbankan nelayan tradisional demi pencitraan dan pemerolehan dana sumbangan dari pihak asing,” tegas Abdul Halim. (SMCN)

Sumber: http://web.pab- indonesia. com

Jumat, 10 Juli 2009

Enam Bulan bagi Perusak Terumbu Karang

PADANG, KOMPAS.com - Oknum masyarakat yang terbukti melakukan kegiatan merusak terumbu karang di perairan laut Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) diancam hukuman pidana enam bulan penjara.

“Selain itu dikenai denda maksimal Rp 50 juta,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar Yosmeri di Padang, Jumat (3/7).

Ia menjelaskan, ancaman pidana penjara dan denda itu menjadi bagian penting dalam rancangan peraturan daerah (Ranperda) Sumbar tentang pengelolaan dan melindungi ekosistem terumbu karang.

Ranperda tersebut saat ini dalam pembahasan antara pemerintah daerah dan DPRD Sumbar dan ditargetkan disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) pada akhir Juli 2009.

Ancaman hukuman itu akan menjadi bagian BAB atau pasal dalam Ranperda itu dan setelah disahkan bisa menjadi landasan hukum untuk menindak tegas oknum masyarakat yang merusak terumbu karang.

“Harapkan dengan adanya landasan hukum di tingkat daerah ini, akan mengurangi tindakan-tindakan eksploitasi batu karang oleh oknum masyarakat,” katanya.

Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengatakan, pengajuan Ranperda pengelolaan dan melindungi ekosistem terumbu karang ini membuat landasan hukum mengatur pengelolaan dan melindungi terumbu karang dalam wilayah laut seluas 186.580 kilometer persegi di Sumbar.

“Perlunya landasan hukum itu karena terumbu karang merupakan satu kekayaan sebagai sumber daya alam hayati yang dapat dimanfaatkan baik langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Selain itu, terumbu karang terutama yang berada di bagian tepi laut dan penghalang juga berperan sebagai pelindung pantai dari hempasan obak dan arus kuat dari laut, tambahnya.

Terumbu karang juga berperan utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat asuh dan pembesaran serta tempat pemijahan bagai berbagai biota laut.

Akan tetapi, menurut dia, kualitas ekosistem terumbu karang Sumbar terus menurun akibat terus-menerus mendapat tekanan dari aktivitas manusia.

Ia menjelaskan, aktivitas itu seperti penambangan batu karang untuk bahan bangunan dan penangkapan ikan dengan bahan peledak atau racun yang tidak saja mematikan karang tapi jauh dari itu memusnahkan plasma nutfah sekitarnya.

Dampak dari rusaknya ekosistem terumbu karang telah mulai dirasakan termasuk oleh masyarakat nelayan di mana ikan hasil tangkap mereka terus berkurang jumlah, kata gubernur.

Untuk mengatasi masalah itu, maka Pemda dan DPRD Sumbar akan mengesahkan rancangan peraturan daerah (Perda) untuk mengatur pengelolaan dan melindungi ekosistem terumbu karang, tambahnya.

Perda itu nantinya secara umum juga untuk menjaga laut Sumbar yang memiliki luas mencapai 186.580 kilometer persegi yang terdiri dari zona teritorial (57.880 km2) dan zona ekonomi eksklusif (128.700 km2) dengan garis pantai sepanjang 2.420,39 kilometer, demikian Gamawan Fauzi.
BNJ

Kamis, 09 Juli 2009

Terumbu Karang Akan Punah pada Akhir Abad Ini

Beijing (ANTARA News/Xinhuanet-OANA) - Banyak ahli margasatwa memperingatkan terumbu karang di dunia mungkin akan punah paling lambat pada akhir abad ini jika jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfir tidak dikurangi.

Dalam pertemuan di London, Senin, para ahli terkemuka margasatwa menyatakan bahwa langkah buangan gas yang diramalkan berarti tingkat 450 bagian per juta CO2 di atmosfir akan dicapai paling lambat pada 2050.

Buangan itu akan mengarah kepada peningkatan keasaman kondisi samudra dan pemanasan temperatur air, yang akan mematikan terumbu karang dalam beberapa dasawarsa selanjutnya.

"Dapur mulai terbakar dan api itu kian menyebar ke seluruh bangunan," kata Alex Rogers dari Zoological Society of London dan International Program on the State of the Ocean.



"Jika kita bertindak cepat dan secara meyakinkan kita mungkin akan dapat memadamkannya sebelum kerusakan jadi tak dapat diubah," katanya.

Terumbu karang adalah tempat berteduh dan perawatan penting bagi ikan dan makhluk hidup lain di dalam laut.

Terumbu karang juga melindungi garis pantai, menyediakan sumber penting makanan bagi jutaan orang, menarik wisatawan dan menjadi tempat penyimpanan obat yang potensial bagi penyakit kanker dan penyakit lain.

Yang terbesar adalah Great Barrier Reef, kumpulan 2.900 terumbu karang di sepanjang 2.100 kilometer pantai timur-laut Australia di taman laut dengan ukuran seluas negara Jerman.(*)


Toggle

Shades of Teal Palette

Shades of Teal Palette