JAKARTA, KOMPAS.com - Dua danau di Pulau Sulawesi direkomendasikan
dikeruk akibat sedimentasi berat. Keduanya adalah Danau Limboto di
Provinsi Gorontalo dan Danau Tempe di Provinsi Sulawesi Selatan.
Keduanya masuk Program Pengelolaan Danau Prioritas Tahun 2010-2014 yang
total berjumlah 15 danau. Sebanyak 15 danau lainnya masuk prioritas
program rehabilitasi tahun 2015-2019.
Selain dua danau dikeruk, juga dilakukan peningkatan kualitas air,
peningkatan komitmen pemerintah, pemulihan kawasan terpadu, pengawasan
pemanfaatan multifungsi danau, peningkatan pariwisata, dan program
perubahan iklim.
"Kami butuh kerja sama departemen lain dan pemerintah daerah untuk
memenuhi target itu," kata Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup
Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian
Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman kepada wartawan di Jakarta,
Selasa (21/7).
Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) memprakarsai Konferensi
Nasional Danau Indonesia: Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan
Iklim di Bali, 13-15 Agustus 2009. Diperkirakan ada 700 peserta dari
sembilan departemen dan kementerian serta pemerintah daerah.
Data KNLH menunjukkan, dari 22 sungai yang mengalir ke Danau Limboto,
hanya dua sungai masih mengalir ketika musim kemarau. Kondisi hampir
sama terjadi di Danau Tempe.
Selama 1972-2002 laju penyusutan luas Danau Limboto 50 hektar per tahun
dan laju sedimentasi 1,5-50 sentimeter (cm) per tahun. Tanpa
rehabilitasi kerusakan lahan dan pengendalian limbah domestik, tahun
2034 danau itu akan menjadi legenda.
Sementara itu, laju sedimentasi di Danau Tempe mencapai 1-3 cm per
tahun. Tanpa intervensi rehabilitasi, Danau Tempe diperkirakan hilang
setiap musim kering pada tahun 2018.
"Banyak lahan kritis, hutannya juga sedikit," kata Asisten Deputi III
Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Antung D Radiansyah.
Menambah ironis
Masifnya kerusakan danau-danau di Indonesia menambah deret ironi
kekayaan alam Tanah Air setelah pembabatan hutan dan eksploitasi sumber
daya alam besar-besaran.
Dari data KNLH, ada 840 danau besar dan 735 danau kecil di Indonesia.
Danau-danau itu menyediakan 72 persen suplai air permukaan di Indonesia.
Danau-danau juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, wisata,
irigasi, dan budidaya perikanan. Namun, daya dukungnya terus menyusut
drastis akibat pola pembangunan dan pengelolaan yang mengabaikan fungsi
penting dan daya tampungnya.
Salah satu contoh pengabaian perhitungan daya tampung danau adalah
kematian massal ikan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada akhir tahun
2008 lalu hingga mencapai 13.413 ton atau setara dengan Rp 150 miliar.
Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain dalam skala berbeda-beda.
Namun, terus berulang dan merugikan para pembudidaya ikan.
"Waktunya mengubah pola pikir tentang pengelolaan dan peran danau dalam
pembangunan, " kata Masnellyarti.
Sebagai langkah perubahan, setidaknya membutuhkan komitmen sembilan
departemen dan kementerian untuk kesepakatan pengelolaan danau
berkelanjutan. Sejumlah target sudah dibuat dan rencana pengelolaan
berkelanjutan disusun untuk dibahas pada pertemuan di Bali pada Agustus
2009 mendatang.
Untuk mendanai program tersebut butuh dana besar. Untuk itu, KNLH akan
mengajak semua departemen dan kementerian yang terlibat pengelolaan
untuk turun tangan. (GSA)
http://sains. kompas.com/


